Selamat Hari Ibu, untuk Para Ibu yang Luar Biasa!

Peringatan Hari Ibu Nasional pertama kali dicanangkan oleh Presiden RI Ir.Soekarno pada Ultah ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928 bertempat di Gedung Dalem Jayadipuran-Yogjakarta tahun 1959.

Keputusan tersebut ditetapkan sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran bernegara dan berbangsa. Semangat yang tentu saja terinspirasi oleh perjuangan para pahlawan perempuan seperti RA Kartini, Martha Tiahahu, Cut Nya Dien Nyai Ahmad Dahlan dan kawan-kawan.

Jauh sebelum hari ibu diramaikan untuk menghargai jasa kaum Hawa, Allah dan Rasul-Nya sudah mengapresiasi setiap keringat mereka saat mengandung, setiap helaan napas mereka saat melahirkan, dan setiap tetes ASI saat menyusui.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, (Al-Ahqaaf: 15)

أَنَّ رَجُلًا، سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَحَقُّ مِنِّي بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Seorang pemuda bertanya kepada Nabi Muhammad, “Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan cinta, rasa hormat dan loyalitasku?” Belaiu menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya kembali “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu“. “Kemudia siapa lagi?” Tanya pemuda itu, Nabi Membalas, “Ibumu“. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” Nabi Membalas, “Kemudian ayahmu”. (Ahmad, al-Bukhari, Muslim)

Ada pemuda penduduk Yaman yang sedang thawaf di Masjidil Haram sambil menggendong ibunya di punggung. Melihat Ibnu Umar, seorang sahabat Rasul, orang itu bersyair,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ –  إِنْ أُذْعِرْت رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sungguh aku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. # Saat tunggangan lain kabur, aku tidak akan kabur.

ثُمَّ قَالَ ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا قَالَ لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

Kemudian dia bertanya, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas jasa dan kebaikannya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun satu helaan napasnya saat melahirkanmu.” (al-Bukhari: al-Adab al-Mufrad)

“Jika ada hari untuk membalas segala sesuatu yang telah diberikan Ibu kepadaku, maka sepatutnya setiap hari adalah hari Ibu.”