Fenomena Bunuh Diri Di Sekolah

Suzy Yusna Dewi

https://www.suzyyusnadewi.com/
https://www.kliniktalentacenter.id/
School Director of Islamic Green school

Sekolah merupakan tempat siswa belajar, berteman dan beradaptasi dengan lingkungan. Sekolah adalah tempat dimana sebagian besar anak menghabiskan waktunya untuk mengasah kecerdasannya, bukan hanya kecerdasan kognisinya tetapi juga kecerdasan majemuk yang pastinya berbeda masing-masing anak. Kecerdasan majemuk antara lain ,kecerdasan dalam berhubungan sosial, kecerdasan mengerti akan dirinya, kecerdasan natural, music dan banyak lagi kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak. Tentunya sekolah yang baik menyediakan tempat agar anak dapat belajar mengasah kecerdasan majemuk diatas.  Anak seharusnya senang melangkahkan kakinya di sekolah, senang bertemu dengan teman dan gurunya di sekolah, jika apa yang menjadi kesukaanya difasilitasi.

Kenapa sekolah dijadikan sebagai tempat untuk Bunuh Diri?

Dari data kepolisian RI, mencatat bahwa stresor psikososial sebagai penyebab Bunuh diri remaja antara lain; konflik dengan keluarga, penolakan dalam pergaulan, perpisahan dengan orang yang dicintai, merasa dipermalukan, konflik dengan pacar, masalah ekonomi dan ujian nasional.

Disamping itu, belajar bunuh diri secara online dapat menjadi faktor risiko bunuh diri dikalangan remaja.

Data diatas menjelaskan bagaimana masalah anak atau stresor psikososial kemungkinan terjadi antara lain di sekolah adalah hal yang tidak dapat dipungkiri.  Fenomena bunuh diri disekolah adalah salah satu bentuk  ketidaknyamanan terhadap diri yang berujung pada tindakan impulsif tanpa pikir panjang. Sekolah dijadikan tempat untuk melakukan bunuh diri kemungkinan besar tidak lepas dari faktor stresor atau pemicu yang terjadi bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah.

Bagaimana sikap sekolah menyikapi stresor psikososial yang akan menjadi pemicu terjadinya Bunuh diri di sekolah ?

Seyogyanya sekolah menyiapkan sarana  yang dibutuhkan anak,  ruang untuk nyaman di sekolah, teman yang memahami akan masalah yang dihadapi anak, guru yang peduli dengan perubahan emosi anak . Pentingnya kepekaan sosial dari lingkungan tempat anak menghabiskan waktunya.

Stresor psikosososial diatas akan datang kapan saja dan mungkin dialami anak, sekolah tidak mungkin mencegah masalah yang terjadi pada tiap anak. tapi yang paling mungkin dilakukan adalah bagaimana sekolah memberikan pendidikan yang tidak hanya mengedepankan pada aspek kognitif , akan tetapi juga memberikan pendidikan pada pendidikan karakter dan ketahanan mental atau dikenal dengan RISILIENSI disamping juga memahami kemampuan dan minat masing –masing anak .

Apa yang dimaksud dengan RISILIENSI ?

Reivich & Shatte (2002) , mengatakan bahwa Risilience adalah kemampuan menyesuaikan diri dan lentur terhadap tekanan atau stresor yang dialami anak atau kemampuan untuk beradaptasi secara positif dalam mengatasi masalah  hidup. Peran sekolah membentuk risliensi anak melalui beragam kegiatan yang tentunya menyenangkan.

Grotberg (1999),  mendefinisikan  Resiliensi adalah kapasitas individu untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat diri, dan tetap melakukan perubahan sehubungan dengan ujian kehidupan yang dialami individu. Setiap individu memiliki kapasitas untuk menjadi resilien atau menjadi lentur terhadap masalah. Resiliensi menitikberatkan pada pembentukan kekuatan individu sehingga kesulitan dalam kehidupan dapat dihadapi dan di atasi secara positif.  Resiliensi adalah kemampuan pikiran yang memungkinkan untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai sebuah pengalaman  dan sikap  positif. Dengan terbentuknya risiliensi maka anak akan merasa bahagia dalam menghadapi kehidupannya, dan  tidak akan mungkin  seorang anak SMP yang masih belia, terpikir untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri .

Menjawab pertanyaan akan benarkah adanya tindakan bullying yang mengakibatkan terjadinya Bunuh Diri ?

Maka jawabannya adalah BUKAN , karena Bunuh Diri jelas disebabkan karena tidak terbentuknya RISILIEN pada si anak .

Sekolah yang baik seyogyanya menyiapkan pembentukan Risilien bagi peserta didiknya, sehingga bisa mengurangi perilaku Bunuh Diri atau perilaku Berisiko lainnya.