Hari Lahir Pancasila

Memang sungguh indah kehidupan seorang mukmin, mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur saat mendapat kesenangan dan bersabar di tengah cobaan (H.R :Muslim)

Tahun ini menjadi tahun yang istimewa bagi kita bangsa Indonesia, terutama umat muslim. Ketika banyak Negara di dunia kesulitan menyusun kembali tatanan kehidupan negaranya paska penetapan Pandemic COVID-19, Indonesia kerap diingatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa ber-tawakkal atas takdirNya. Genap sepekan perayaan hari raya Idul Fitri bagi umat Islam, bangsa ini diingatkan akan hari kelahiran Pancasila, 1 Juni 1945. Hari kelahiran Pancasila menyiratkan makna semangat kebangsaan bagi bangsa Indonesia agar mampu hidup berjaya dengan kebinekaan agama, suku, ras dan kebudayaan.

Sejak awal Maret, COVID-19 ditetapkan sebagai Pandemic, bangsa Indonesia mulai bersiap menghadapi bulan suci Ramadhan beserta banyak perayaan lainnya dari agama lain yang diakui Indonesia. Pemerintah dan para tokoh masyarakat segera berbicara menguatkan masyarakat agar tetap tenang di tengah badai Pandemic COVID-19 yang berdampak pada tatanan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kebijakan PSBB  yang dan ajakan berbagi sebagai bentuk kepedulian sosial masyarakat terus digaungkan. Sungguh lengkap, setiap pemuka agama secara bergantian senantiasa menjaga akal sehat dan kepedulian umatnya. Meskipun Pandemic ini banyak menghambat segala aspek kehidupan, namun bangsa Indonesia justru tetap dapat menjaga solidaritas semangat kebangsaan untuk saling bahu membahu melawan dan mengatasi Pandemic COVID-19 ini.

Banyak literatur menjelaskan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kehidupan para ulama Muslim Indonesia beserta latar belakang kehidupan pesantrennya. Disebutkan bahwa butir-butir yang tertuang dalam Pancasila merupakan hadiah umat muslim bagi Indonesia. Menurut Prof Hamka, Pancasila merupakan pengejawantahan dari ajaran Islam. Islam sebagai agama rahmah bagi sekalian alam, mencintai kerukunan, toleransi, keadilan, gender, dan semua sendi kehidupan dunia.

Sejarah mencatat  bahwa Pancasila pertama kali lahir dari buah pikir Ir. Sukarno dan para tokoh bangsa yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945, dua pekan paska pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam pidatonya Bung Karno menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan dasar filosofis yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa dalam menjalankan Negara. Kemerdekaan yang telah direbut dari tangan penjajah harus dapat diisi melalui berjalannya suatu Negara diatas sendi-sendi kehidupan berkebangsaan masyarakat di dalamnya. Dasar Negara yang menyatukan kebhinekaan namun tetap dapat mewujudkan persatuan, toleransi, kemufakatan, serta keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Soekarno menegaskan bahwa kemerdekaan yang dimiliki oleh Indonesia ini adalah berkah dan rahmat dari Tuhan.

Berikut isi Pidato Presiden Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945 ;

Prinsip yang kelima hendaknya; Menyusun Indonesia merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih. Yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad Saw. Orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni tiada eogisme agama. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang berTuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen dengan cara berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain.

Sumber : https://journal.uii.ac.id/Millah/article/download/4085/3638

Merujuk kondisi bangsa Indonesia saat ini yang sedang berjuang melawan dampak Pandemic COVID-19, ditengah-tengah makar dan anarkisme yang terjadi di banyak Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, atas dasar berketuhanan dan semangat kebangsaan itulah kita tidak boleh menyerah pada keadaan saat ini.

Jangan biarkan kepedulian sosial kita membeku melihat saudara-saudara kita yang membutuhkan berada dalam kesulitan berkepanjangan. Hendaknya kita semua berani membuang keegoisan dan sikap memanfaatkan kesempitan orang lain demi mensejahterakan diri sendiri dan segelintir orang. Tetap merendah dalam kesederhanaan namun mampu berkualitas dalam produktivitas. Dengan semangat kebangsaan, InsyaAllah Allah subahanahu wa ta’ala akan membersamai kita, para mukminin yang senantiasa bersabar dan bersyukur meskipun dalam keterbatasan. Hendaknya kita menjadi katalisator yang terus bergerak memberi inisiatif dan tetap berpikir kritis mencari solusi terbaik sehingga terus dapat memberi kemaslahatan bagi banyak orang.

Dari berbagai sumber:

https://republika.co.id/berita/o83ak72/hari-lahir-pancasila-nilai-islam-dalam-pancasila

https://republika.co.id/berita/qb8eca282/pancasila-hadiah-terbesar-umat-islam-untuk-indonesia

https://www.merdeka.com/peristiwa/pancasila-kaitannya-erat-dengan-nilai-keagamaan-dalam-alquran.html

  • Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI.  Sejak tahun 2017, tanggal 1 Juni resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari “Lahirnya Pancasila” .

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Lahirnya_Pancasila