TIPS MENULIS CERPEN BAGI PEMULA

Cerita pendek atau yang dikenal dengan cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sering dibaca hingga saat ini. Menurut KBBI, cerpen berasal dari dua kata yaitu cerita yang mengandung arti tuturan mengenai bagaimana sesuatu hal terjadi dan relatif pendek berarti kisah yang diceritakan pendek atau tidak lebih dari 10.000 kata yang memberikan sebuah kesan dominan serta memusatkan hanya pada satu tokoh saja dalam cerita pendek tersebut. Pada umumnya cerpen dapat ditemukan di surat kabar, platform digital story, kumpulan cerpen, dan media lainnya. Cerpen mengangkat berbagai jenis kisah, baik kisah nyata maupun kisah fiksi dengan berbagai macam genre. Genre yang paling banyak diminati oleh pembaca adalah fiksi ilmiah, fiksi romance, fiksi fantasi, fiksi detektif, dan sebagainya.

Cerpen yang menarik dan menghibur bisa dibuat oleh siapapun. Menulis cerpen bagi yang sudah mahir merupakan hal yang mudah dilakukan, namun bagi pemula merupakan hal cukup sulit dilakukan. Bagi pemula dibutuhkan banyak latihan agar menghasilkan karya cerpen yang menarik dan menghibur pembaca.

Ciri-ciri cerpen menurut Wicaksono (2005: 55 dalam Tarnisih, 2018) dapat mencirikan cerpen sebagai berikut:

  1. Jalan ceritanya lebih pendek dari novel
  2. Sebuah cerpen memiliki jumlah kata yang tidak lebih dari 10.000 (10 ribu) kata
  3. Biasanya isi cerita cerpen berasal dari kehidupan sehari-hari
  4. Tidak menggambarkan semua kisah para tokohnya, hal ini karena dalam cerpen yang digambarkan hanyalah inti sarinya saja.
  5. Tokoh dalam cerpen digambarkan mengalami masalah atau suatu konflik hingga pada tahap penyelesaiannya.
  6. Pemakaian kata yang sederhana serta ekonomis dan mudah dikenal pembaca.
  7. Kesan yang ditinggalkan dari cerpen tersebut sangat mendalam sehingga pembaca dapat ikut merasakan kisah dari cerita tersebut.
  8. Biasanya hanya 1 kejadian saja yang diceritakan.

Bagi pemula yang akan mulai menulis cerpen, ada baiknya jika kamu mulai mengetahui cara membuat cerpen yang baik dan benar. Berikut ini langkah-langkah menulis cerpen:

  1. Temukan motivasi menulis
  2. Pilihlah tema yang menarik dan sesuai kemampuan
  3. Menentukan penokohan dan watak
  4. Menentukan alur cerita yang jelas
  5. Memilih sudut pandang dalam cerita
  6. Menentukan judul yang menarik
  7. Gunakan gaya bahasa yang tepat sehingga pembaca mudah memahami ceritamu.
  8. Setelah menulis cerpen, bacalah cerpen ulang yang telah dibuat. Dengan begitu, akan mengetahui letak kesalahan yang ada, baik kesalahan penulis atau kesalahan lain.

Berikut ini adalah salah satu contoh cerpen dengan genre “Fantasy-Romance”. Cerita ini hanya fiktif belaka semoga bisa menghibur para pembaca.

Imaginary Boyfriend

Liburan semester usai, akhirnya aku kembali ke kampus seperti biasa ketemu dosen dan tugas-tugas. Aku adalah Hana Kiyomizu mahasiswa di Universitas Seinen. Aku merasa senang karena bisa kumpul bersama tiga sahabatku Ichi, Naomi, dan Ruka.

Dalam perjalanan ke kampus, aku bertemu dengan beberapa teman sekelasku. Sesampai di kelas aku langsung menghampiri ketiga sahabatku dan bercerita selama liburan semester.

“Hai semua apa kabar..??” Kataku (melambaikan tangan ke mereka dengan wajah senang)

“Baik.” kata ketiga sahabatku (jawab serempak).

“Kalau kamu..??” Kata Ruka.

“Baik juga kok. Gimana liburan kalian? Cerita dong!” Kataku.

“Liburanku sangat menyenangkan. Karena selain liburan bersama keluarga, aku juga bersama pacar.” Kata Naomi (dengan wajah senang).

“Sama dong. Aku juga liburan dengan keluarga dan pacarku.” Kata Ruka (dengan wajah senang).

“Aku juga liburan dengan pacar bahkan keluargaku mengajaknya untuk libur bersama.” Kata Ichi (dengan semangat menjawab).

“Senangnya punya pacar seperti kalian”. Kataku (bicara dalam hati sambil membayangkan punya pacar)

“By the way, gimana liburanmu Hana..?? Cerita juga ke kita!” Kata Naomi.

“(Dengan kagetnya) Oh. Liburanku juga menyenangkan seperti kalian. Aku liburan ke rumah nenek di Bali.” Kataku

“Bali, keren. Ada cowok yang naksir kamu ga di sana?” Kata Ichi (dengan wajah penasaran karena di antara kami hanya aku yang belum punya pacar).

“A..ada.” Kataku (dengan bicara gugup)

“Wah, siapa namanya? Bagaimana orangnya?” Kata Naomi.

“ Namanya ada dech, yang jelas dia baik, sopan, tinggi, manis, dan sayang aku.” Kataku (jawab dengan percaya diri).

“Maaf ya kawan, aku bohong sama kalian.” Kataku (dalam hati).

Tidak lama kemudian, dosen datang ke kelas dan pelajaran pun dimulai. Di tengah pelajaran,

Ruka bilang kepadaku dengan berbisik, “Hari minggu, kenalin ke kita dan ketemuan di Ancol. Kita berempat kencan bareng”.

“Siip.” Kataku (dengan berbisik).

Satu jam kemudian, mata kuliah pertama selesai dan wakunya belajar bersama dengan sahabatku sambil menunggu mata kuliah selanjutnya. Saat keluar kelas semua teman-temanku sibuk untuk membereskan buku dan alat tulis dan juga ketiga sahabatku. Kami keluar kelas dan langsung menuju ke Taman untuk belajar, karena sudah kebiasaan kita sambil menunggu mata kuliah selanjutnya yang rentang waktunya lama dari mata kuliah sebelumnya. Selain itu, Taman merupakan tempat basecamp kita untuk kumpul dan belajar karena dapat menyejukkan pikiran.

Selesai belajar kami kembali ke kelas mengikuti mata kuliah selanjutnya yaitu Bahasa Indonesia. Beberapa jam kemudian, pelajaran ini selesai. Dosen pun langsung keluar dan dilanjutkan dengan teman-temanku, tapi masih ada beberapa temanku yang masih sibuk membereskan peralatannya, termasuk ketiga sahabatku. Kemudian, kami pergi ke parkiran bersama untuk pulang, kebetulan hari ini hanya ada dua matkul jadi pulangnya tidak terlalu sore. Di parkiran, aku langsung pamitan pada ketiga sahabatku. Ketika berpamitan dengan Ruka, dia mengigatkanku kembali pada acara hari Minggu.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan memikirkan bagaimana harus punya pacar dalam waktu dekat ini. Lima menit kemudian, mamahku mengetuk pintu kamarku untuk makan. Akhirnya berhenti dulu memikirkan soal pacar dan langsung keluar kamar untuk makan bersama keluarga.

Selesai makan, aku dikasih tau sama kakakku, “De, aku pajang lukisan punyaku di kamarmu ya.”

“Cie, yang pamer karya lukisanmu. Tau dech yang punya bakat seni lukis tinggi.” Kataku (dalam sindiran).

“Bukan pamer lagipula bukan buatan kakak. Pulang kerja kakak mampir ke galeri dan di sana ada lukisan bagus jadi kakak beli. Selain itu, kamar kakak tidak ada tempat lagi dan sepertinya nuansa lukis itu cocok di kamarmu.” Kata kakakku.

“Owh gitu, siip. Oia, gambar lukisannya apa..? Pemandangan, menara Eiffel, atau pa..?” (dengan penasaran) Kataku.

“Liat saja sendiri di kamarmu, lagipula aku masih butuh bantuanmu untuk memasang lukisan ini.” Kata Kakakku.

Kemudian aku dan kakakku ke kamarku untuk memasang lukisan itu dan ternyata lukisan itu seorang pemain biola yang sedang bermain di taman yang indah.

Akhirnya lukisannya terpajang di kamarku. Selesainya di pajang aku langsung mengerjakan PR untuk besok. Ketika waktu menunjukkan jam 9, aku harus tidur supaya besok pagi tidak telat ke kampus.

Pada tengah malam, hujan turun deras dan aku terbangun karena terdengarnya suara petir. Tidak hanya itu, aku juga mendengar suara permainan musik yang indah. Aku penasaran dan keluar kamar untuk mencari suara tersebut. Sepertinya suaranya ada di ruang tengah, aku segera melihatnya dan ada seseorang di sana. Semakin penasaran dengan rasa takutku dan aku langsung menyalakan lampunya karena tidak mungkin keluargaku tengah malam bermain alat musik. Ternyata dia adalah seorang cowok, tapi dia bukan keluargaku. Permainan biolanya berhenti dan melihat ke arahku.

“Si…si..siapa kamu? Manusia apa hantu? Jangan mendekat!” Kataku (wajah takut dan suara gemetar)

“Jangan takut, aku tidak jahat. Aku adalah cowok yang ada di lukisan kamarmu, namaku Ryu Hikawa. Aku bosan di lukisan itu jadi aku main biola. Maaf ya?” Kata Ryu.

Selesai Ryu bicara aku langsung ke kamar dan tidak peduli karena kuanggap sebagai mimpi.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Sebelum berangkat aku memperhatikan lukisan tersebut. Kejadian semalam belum aku ceritakan ke keluargaku maupun ketiga sahabatku. Di tengah pelajaran, mereka mengingatkanku pada acara hari minggu itu.

Dalam tiga hari, tiap pulang dari kampus aku selalu memikirkan tentang pacar karena aku sudah terlanjur bohong kepada mereka. Selain itu, aku juga memikirkan keanehan pada lukisan yang tiap tengah malam selalu muncul. Pada hari Jumat, aku beranikan diri untuk bicara dengan cowok lukisan itu. Ternyata setelah banyak berbicara dengannya, Ryu itu orangnya asyik dan ramah bahkan dia menunjukkan lagu Rise Up untukku. Hari itu, aku senang sekali karena musik yang ditunjukkan ke aku begitu indah. Semenjak itu, aku mulai terbiasa kehadirannya dan muncul perasaan aneh jika berada didekatnya.

Oh Tuhan, apa ini artinya aku mulai sayang dengannya, tapi kenapa dia bukan manusia yang hidup di dunia ini. Tiap berada didekatnya aku selalu berpikiran seperti itu dan sekarang aku punya dua permasalahan yang sulit bagiku untuk diselesaikan.

Sabtu malam Naomi sms aku:

Guys, besok jam 4 sore jangan lupa ya ketemuan di Taman Ria dan bawa pasangan kalian.

Setelah baca sms, aku bingung menjelaskan ke mereka kalau aku belum punya pacar. Di saat ku bingung, Ryu ada di sampingku dan menanyakan, “Kenapa raut wajahmu seperti bingung?” Kata Ryu dengan penasaran.

“Tidak apa-apa kok.” Kataku.

“Maaf Ryu, aku tidak bisa kasih tau masalahku ke kamu. Karena kamu bukan manusia yang hidup di dunia ini.” Kataku (bicara dalam hati).

“Ryu, aku tidur duluan ya.” Kataku

“Oh ya, selamat tidur.” Kata Ryu

Setelah bicara dengan Ryu, aku langsung tidur dan selesaikan masalahnya hari esok saja.

Hari minggu pun tiba, aku pergi ke Ancol. Sesampai di sana, aku ketemu ketiga sahabatku yang membawa pacarnya masing-masing.

“Hana mana pacarmu?” Kata Ichi

“Iya, mana pacarmu?” Kata Naomi

“Katanya janji mau kenalin ke kita?” Kata Ruka

“Maaf kawan, pacarku lagi sibuk.” Kataku (Jawab bingung)

“Masa untuk pacar sendiri sibuk. Kamu bohong pada kami ya, kalau sebenarnya kamu tidak punya pacar.” Kata Naomi (Kecewa)

“Tidak, aku tidak….” Kataku.

Tiba-tiba Ryu datang

“Maaf ya sayang, aku datangnya telat.” Kata Ryu.

“Kenapa Ryu bisa terlihat oleh mereka, dia kan seperti hantu.” Kataku (bicara dalam hati wajah bingung dan kaget)

“Hana, pacarmu keren juga sama yang dibilang denganmu kemarin.” Kata Ruka

“Iya, ganteng. Hana kenalin dong namanya!” Kata Ichi

“Perkenalkan nama ku Ryu Hikawa pacarnya Hana.” Kata Ryu (sambil berjabat tangan kepada mereka termasuk semua pacar ketiga sahabatku)

Ketika berjabat tangan, aku memperhatikannya tangannya takut mereka merasakan keanehan pada Ryu dan ternyata mereka tidak merasakan keanehan bahkan mereka semua merasa senang atas kehadiran Ryu. Setelah memperkenalkan, kami semua makan bareng dan saling bercerita. Di tengah makan, Ryu menunjukkan permainan musik biolanya indahnya kepada mereka semua. Mereka semua sangat senang begitupun juga aku.

Selesai makan, kami semua mulai berpencar. Aku bersama Ryu dan ketiga sahabatku bersama pacarnya masing-masing. Aku dan Ryu naik kincir angin. Di situ aku bertanya, kenapa kamu bisa datang ke sini? Apa kamu tidak takut kalau mereka tahu kamu bukan manusia?

“Kemarin malam, aku melihat sms mu dari sahabatmu. Tenang saja, tidak apa-apa kok.” Kata Ryu (Jawab dengan santai dan tersenyum hangat).

Ketika Ryu melihat ke arahku dengan mata lembutnya. Tiba-tiba hatiku berdegup kencang, dan menyadari kalau aku suka sama Ryu, tapi Ryu tidak menyadarinya.

Dua jam kemudian, kita semua berkumpul lagi dan melihat kembang api di langit. Setelah itu, kami pulang ke rumah masing dan ketiga sahabatku pulang bersama pacarnya mereka. Sebelum pulang, ketiga sahabatku bicara padaku kalau hari ini mereka senang bisa berkumpul bersama dengan membawa masing-masing pacar. Dalam hatiku, aku juga senang dan permasalahan pertama sudah selesai walaupun aku berbohong kepada mereka kalau Ryu bukan manusia.

Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar. Ryu ke kamarku dengan cara magicnya.

“Ryu, terima kasih hari ini, kamu sudah membantuku untuk menyelesaikan masalah ini untuk pura-pura jadi pacarku.” Kataku.

“Iya sama-sama. Sebenarnya aku tidak pura-pura menyukaimu, semenjak kita bertemu pertama kali di ruang tengah, aku sudah suka sama kamu. Apa kamu juga suka dengannku?” Kata Ryu (dengan tatapan yang lembut).

Aku kaget dan tidak berpikir tanpa panjang

“Iya, aku juga suka sama kamu.” Kataku (dengan tersipu malu dan rona wajah memerah).

Keesokan paginya, seperti biasa sarapan pagi bersama keluarga. Ketika sarapan, mamahku bertanya sepertinya akhir-akhir ini kamu senang sekali, ada apa? Kakakku langsung menyela, mungkin hana lagi jatuh cinta mah. Beneran na? “kata Mamah.

Semenjak kejadian malam itu, tiap ada libur kita selalu pergi ke tempat-tempat yang mengasyikan. Tempat di mana dapat memberikan kenangan yang tidak terlupakan.

Sudah beberapa hari aku selalu bersama dengannya Suatu hari Ryu mengatakan kalau dia akan pergi dan meninggalkan dunia ini, oleh karena itu hari minggu depan dia mengajakku pergi seharian. Saat itu, hatiku sakit dan kecewaTiba-tiba Ryu memelukku dengan tangan yang hangat dan menangis gembira. Setelah itu, dia pergi dengan tersenyum dan menghilang bagaikan gelembung. Sebelum pergi, dia menujukkan permainan biolanya yang berjudul Tsuki no Kakera. Aku langsung turun keluar kamar dan bertanya kepada kakakku dimana dia mendapatkan lukisan itu. Setelah kudapat alamatnya aku tidur dan besok mulai mencari karena aku tidak mau kehilangan Ryu.

Pulang sekolah, aku langsung ke galeri tersebut dan menanyakan info tentang lukisan tersebut. Info telah kudapat, ternyata yang punya lukisan itu nama keluarga Yoshinaga yang  tinggal di Osaka . Hari sabtu aku akan ke sana untuk menyakan beberapa informasi tentang Ryu.

Hari sabtu pun tiba, aku langsung pergi ke rumah tersebut. Beberapa jam kemudian, aku tiba di rumah yang punya lukisan. Rumahnya indah sekali, dan aku bertanya kepada seorang yang sedang berdiri di depan pintu

“Apa benar ini rumah keluarga Yoshinaga?” Kataku

“Iya benar. Saya pemilik rumah ini. Anda siapa dan ada perlu apa?” Kata ibu Yoshinaga

“Saya Hana Kiyomizu. Begini bu, saya menyakan beberapa hal tentang lukisan cowok bermain biola yang ibu kirimkan ke galeri seni itu? Ibu ada waktu?” Kataku

“Mari Hana, silahkan masuk.” Kata Ibu Yoshinaga

Ketika masuk ke rumah itu, ada seorang cowok yang mirip dengan lukisan yang dipajang di kamarku. Aku kaget dan cowok itu menghampiriku.

“Ini anak saya namanya Ryu, dia baru sembuh dari komanya. Cowok yang lukisan yang dibicarakan Hana itu anak saya Ryu.” Kata Ibu Yoshinaga.

“Hai, Hana apa kabar?” Kata Ryu

Betapa senangnya mendengar hal itu, padahal kupikir dia sudah melupakan tentangku. Aku langsung memeluk Ryu karena tidak mau kehilangan orang yang kusayangi. Ryu pun juga senang bisa bertemu aku lagi. Aku bersyukur bisa bertemu Ryu asli sehingga aku bisa berhubungan dengannya secara normal. Mungkin ini terlihat bodoh, tapi aku jadi bisa memiliki senyuman yang hangat untuk selamanya. Dan aku yakin hubunganku dengan Ryu akan bahagia.

The End

 

Kamu sudah mengetahui pengertian cerpen, ciri-cirinya, dan langkah – langkah membuat cerpen. Kini saatnya bagi kamu untuk menulis sebuah cerpen. Gali imajinasi dan kreativitas kamu lebih dalam, kemudian tuangkan ide-ide tersebut dalam sebuah karya. Selamat mencoba!

 

By Dhana Hastuti

 

Sumber pustaka:

Tarnisih, Eny. 2018. KAJIAN TERHADAP NILAI-NILAI SOSIAL DALAM KUMPULAN CERPEN “RUMAH MALAM DI MATA IBU” KARYA ALEX R. NAINGGOLAN SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR.  Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol 3 (2). Universitas Wiralodra.